Showing posts with label Sisi lain. Show all posts
Showing posts with label Sisi lain. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

Kala Timur Mendominasi Barat

Jauh sebelum pelaksanaan perhelatan akbar ini, banyak perdebatan terjadi. Baik secara maya melalui forum di tempat para cupangers ngumpul (http://www.indobettas.com), situs jejaring sosial terkenal (facebook-red), atau beberapa jaringan lain yang tidak dapat direkam baik oleh saya. Padahal, kontes itu sendiri belum dimulai.

Lihat saja beberapa gejala yang terjadi, mulai dari menghilangnya beberapa jenis ikan SQ di pasaran. Maraknya penjualan ikan dan meningkatnya permintaan akan ikan-ikan cupang hias baik di tingkatan breeder, penjual, sampai pemain ikan. Satu kejadian unik dirasakan sendiri oleh penulis yang harus bangun, hanya untuk membalas sms dari beberapa pecinta cupang yang menanyakan tentang stok ikan cupang hias di rumah. Ujung-ujungnya, penulis harus mengecewakan pecinta ikan cupang tersebut, karena satu dan lain hal. Pertama, “there is no such things as a good fish” dimiliki oleh penulis, bilapun ada, ikan-ikan tersebut sudah melewati masa keemasan mereka dan memulai tugas mereka untuk mengasuh calon-calon juara masa depan. Tapi ini tidak juga menghentikan langkah mereka untuk mendapatkan cupang hias kualitas kontes.

kalo emang yang lagi jagain anak masih bagus, berapa harganya? Kalo perlu angkat aja ama burayak2nya” begitu sekelumit bunyi sms yang pernah diterima penulis jam 12 malam.

Ini juga yang menimbulkan “sense of curiousity” penulis untuk terlibat langsung di dalam perhelatan akbar tersebut. Seademikian tinggi-kah animo yang sudah terbangun di kalangan para pecinta ikan hias yang notabene, penyebaran mayoritasnya ada di bumi pertiwi ini?

Bring Indonesia’s Crowntail Dignity Back to Slipi


Slipi, adalah awal segalanya, dan Kontes Ulang Tahun BMII adalah upaya untuk membangkitkan lagi semangat nasionalisme dalam tubuh setiap pecinta ikan hias ini. Terutama untuk crowntail, yang memiliki nilai historis tersendiri bagi pecinta cupang hias di Indonesia.

Mari kita simak sejenak kutipan yang diambil dari tulisan wong londo, pada sebuah situs ikan cupang.

The last 5-10 years another type of tail was developed. An Indonesian breeder, Ahmad Yusuf, developed the crowntail. Here the rays extended to outside the edges of the fin. This is why the fins get a "comb-like"appearance (is also called the combtail treat).” (van Esch, 2004)

Ini menjadi pertanda bagaimana crowntail jerih payah keringat Indonesia begitu dihargai dimata dunia Internasional. Dan Slipi mempunyai daya magis untuk mewujudkan hal tersebut.

Dan benar saja, walaupun memang dalam tiap kontes suasana kekeluargaan yang tak pandang status sosial, kelas umur selalu dapat ditemui. Kontes slipi mempunyai daya magis tersendiri. Ada sosok Ahmadi (KOBAPI), Martin (Mantan Ketum InBS), Hermanus Haryanto (Ketua BCI) dan beberapa sesepuh lain juga sempat hadir dan berbagi pengalaman serta pengetahuan mereka. Tak terhitung juga jumlah breeder dan pecinta ikan cupang hias yang hadir dan meramaikan pada hari itu.

Ini juga yang memotivasi beberapa pecinta cupang hias Indonesia untuk membuktikan sumbangsihnya bagi kemajuan cupang hias indonesia. “Apapun saya lakukan untuk memajukan dunia ikan cupang hias indonesia, gak peduli berapa ikan yang saya harus masukkan hari ini, sing penting bisa terus meramaikan, lah wong ulang tahun khan cum setahun sekali!” tukas Hendra (atau dikenal dengan nama Hendra Satelit), pria asal Surabaya yang tak segan berdiskusi dan bercanda dengan para pecinta cupang hias lainnya. Total lebih dari 100 ikan yang beliau masukkan menjadi peserta kontes, atau kira 12,5% dari 816 ikan yang tercatat di meja panitia. Sebuah rekor fantastis, terbilang sejak pelaksanaan kontes di Lapangan Banteng lebih dari 2 tahun lalu. Yang membedakan, 816 ikan yang bertanding, semua memang layak bersaing.

Saat Timur Kuasai Barat

Kawasan timur Sumatra (Pekanbaru, diwakili oleh Gerot Farm (289 poin) dan Betta Showroom (239 poin) di peringkat 1 dan 2 Juara Umum-red) dan Jawa (Surabaya, diwakili oleh Hendra Satelit dengan 167 poin) menunjukkan kekuatannya dalam ajang kontes Slipi (Jakarta Barat) ini. Lihatlah bagaimana ketiga jajaran Juara ini begitu menguasai jalannya kontes. Hampir selalu ada ketiga nama tersebut dalam setiap pengumuman Juara di tiap kelasnya.

Dan ini juga yang harus kita lakukan untuk memperjelas supremasi dunia timur ke barat. Ini juga yang harus sama-sama kita buktikan sebagai orang timur untuk terus mengibarkan kejayaan serit di dunia barat. Ini juga yang menjadi perhatian dari para pecinta cupang di Indonesia, termasuk keinginan Hermanus Haryanto disalah satu topik pembicaraannya dengan penulis.

Bagaimana caranya, kita harus mengembalikan lagi kejayaan tersebut. Terus terang, serit kita selalu diakui oleh teman-teman di luar negeri dalam setiap kesempatan kontes Internasional yang diadakan” jelas Hermanus, bercerita tentang pengalamannya bertanding di kontes ikan cupang hias Internasional. “Perjuangan saya juga tidak akan sampai kesana bila tidak mendapatkan dukungan dan restu dari teman-teman semua disini. Saya tidak pernah memandang, baik itu pendatang baru, ataupun pemain lama. Selama kita mempunyai concern yang sama untuk membangun ini, pintu saya akan selalu terbuka untuk mereka. Ada baiknya hubungan ini kita pererat melalui gelas-gelas kopi dan obrolan yang lebih santai, jangan sungkan untuk datang, saya tunggu” tambahnya, mengenai bagaimana hubungan yang terjalin antar pecinta cupang hias.

Dan ini juga yang menjadi dasar bagi BMII untuk membentuk tim “Cakar Garuda Nusantara” dengan tujuan akan selalu membawa nama Indonesia dalam setiap ajang kontes internasional ke depannya. Sebuah mimpi yang tidak dapat dibangun tanpa dukungan dan peran serta setiap insan pecinta ekor mahkota di negeri ini.

Setidaknya kita sudah meletakkan dasar kuat untuk ini, kedekatan personal antar komunitas tanpa memandang perbedaan status sosial dan usia. Dan BMII sendiri mencoba meletakkan pondasi tersebut dalam bentuk Standarisasi Kontes Cupang Hias BMII sebagai bentuk jerih payah yang mulai dibangun sejak 2 tahun lalu bersama teman-teman di Bandung” ujar Harry, ketua BMII periode 2009-2011, dalam salah satu topik sambutannya, sebelum membagikan tumpeng kepada perwakilan dari pemerintah kota Jakarta Barat. Tumpeng yang sama yang dinikmati oleh sebagian besar pecinta cupang yang hadir.

"Pembenahan akan terus dilakukan sebagai pertanda, bahwa kita memang sedang berkembang untuk maju. dan kita berharap ini bisa dilakukan secara terbuka melihat animo dan masukkan dari teman-teman baik di daerah melalui korwilnya, ataupun teman-teman yang concern di sekitaran Jabodetabek" jelas Harry tentang cita-cita mengembangkan Ikan Cupang Hias melalui sistem yang terbuka dan indipenden

Terlepas dari insiden-insiden yang mengganggu jalannya kontes pada hari itu, mulai dari molornya pelaksanaan sampai intervensi dan protes peserta atas kinerja yang dilakukan oleh tim juri. Yang harus diingat bersama adalah, bahwa kontes kemarin bukan akhir dari perjuangan untuk terus meningkatkan kejayaan ikan cupang hias, namun lebih menjadi sebuah landasan bagi jalan yang ingin di bangun bersama oleh setiap lapisan komunitas dan individu pecinta ikan cupang hias di Indonesia. Semoga

Ayo, gulirkan terus semangat ini dari tingkatan daerah, nasional sampai interanasional.

Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it

Monday, April 19, 2010

Slipi dan Perkembangan Cupang Hias Indonesia (Bagian 2 - tamat)

Pada pertengahan tahu 1990-an ikan cupang mulai di konteskan dan di pamerkan keindahan fisiknya tapi mereka belum memisahkan kategorinya seperti sekarang yang memisahkan bentuk sirip maupun warnanya. semenjak adanya kontes konsep ikn cupang dahulu sebagai ikan aduan atau laga berubah menjadi ikan hias.

Kontes ikan menjadi lebih semarak sejak ada pembagian kategori warna dan bentuk sirip. untuk warna ikan cupang jenis serit mempunyai dasar warna terbanyak. bahkan untuk dasar ukurannya ada yang ukuran besar (senior) dan kecil (junior).

Cupang serit merupakan cupang asli Indonesia dan merupakan cupang yang dikembangkan pertama kali oleh peternak-peternak Indonesia. Siripnya yang serupa jarum atau berserit yang merupakan kepanjangan tulang sirip. Cupang serit merupakan kebanggaan bangsa Indonesia dalam memberikan sumbangan pada dunia cupang internasional. Hingga kini Indonesia dikenal sebagai penghasil cupang serit terbaik di dunia. Dalam setiap ajang kontes internasional cupang serit Indonesia selalu merajai kontes kategori serit, bahkan cupang serit milik Walet Fish Collection, Batang, Jawa Tengah telah memenangkan gelar kehormatan Grand Champion pada kontes bergengsi Aquafair 2006 di Malaysia dan Aquaria 2006 di China.

Bermula pada tahun 1997 dari bilangan Haji Ten, Jakarta Timur peternak andal Indonesia Ahmad Yusuf menyilangkan indukan impor Thai berwarna biru yang memiliki ekor delta dan bergerigi (biasa disebut gir oleh kalangan peternak lokal). Setelah beberapa kali dikawinkan maka terciptalah cupang serit yang pertama dengan warna biru, hijau, abu-abu dan maskot (Cambodian).

Untuk pertama kalinya pada bulan Agustus 1998 cupang serit turun dalam ajang kontes cupang di Pondok Indah Mall Jakarta. 2 ekor cupang serit warna hijau dan maskot walaupun tidak menjadi juara, namun telah mengundang sensasi, karena cupang tersebut berbeda dari kebanyakan cupang ketika itu yang berekor lilin atau slayer. Cupang serit dua tersebut diminati karena bentuk siripnya yang unik seakan-akan ikan yang sobek dan rusak.

Pada bulan Mei 1999 sebelum pemilu, peternak Slipi, Jakarta Barat mulai mengambil indukan cupang serit dari Yusuf. Mulailah Kamil dan kawan-kawan di.Slipi mengembangkan cupang serit dan menjadikan Slipi sebagai sentra cupang serit nasional hingga kini. Dalam perkembangannya serit berkembang menjadi serit dua, empat hingga serit enam belas. Dan muncul pula varian serit balok, serit balon dan serit silang.

Fenomena serit silang telah mengangkat nama Henry Gunawan atau Henry Yin dikancah percupangan internasional sekaligus mengangkat nama Indonesia dipercupangan hias dunia. Serit silang berwarna merah hasil ternakan Subur Jaelani atau lebih dikenal sebagai .Asiong, asal usulnya pun berasal dari Ahmad Yusuf yang dibeli oleh hobbiis pemain kontes Pohin dan diberikan kepada Asiong untuk dikembang biakan dan disilangkan. Hingga kini serit silang berharga tinggi dan sangat dicari-cari oleh para hobbiis karena belum dapat diturunkan secara terus menerus. Seekor serit silang bisa berharga diatas jutaan rupiah. Karena ekornya yang silang melengkung menyerupai mahkota raja serta masih sangat sulit diperoleh serit silang dinamakan King Crowntail atau rajanya cupang serit.

Bisa terlihat, bagaimana Slipi tidak bisa dipisahkan dari Cupang, dan apakah sejarah baru dalam Perkembangan dunia Ikan Cupang Hias akan kembali terjadi? kita buktikan saja pada tanggal 24-25 April 2010 nanti

Sayangnya beberapa narasumber lain yang saya minta secara paksa dan bujukan tidak memiliki dokumentasi pendukung untuk ini. Untuk itu melalui artikel yang saya susun secara serampangan ini, saya mengajak teman2 untuk melengkapi dan memperkaya khazanah pengetahuan kita.

sumber bacaan:
Atmadjaja, J. dan Sitanggang, M. Panduan Lengkap Budi daya & Perawatan Cupang Hias, hal 13 - 15, Jakarta, Agromedia, 2008

http://www.inbs-club.com/phpbb/viewtopi ... 856#p17481

http://books.google.com/books?id=N5jc0h ... PI&f=false

http://jurnalmedika.com/edisi-11-2009/1 ... -sppd-khom

http://sucipto.web.id/info/category/sejarah/page/6/

http://hkbp-slipi.blogspot.com/p/sejara ... pi_24.html

http://artikelindonesia.com/search/Seja ... -+Forum+...

http://infoikancupang.blogspot.com/2009 ... nesia.html

http://dev.progind.net/modules/smartsec ... itemid=117

Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it

Menjelang 1 Tahun BMII: Slipi dalam Sejarah (Bagian 1)

Slipi, daerah yang kini diidentikkan dan sering diplesetkan berasal dari kata “sleepy” yang berarti ngantuk. Bagaimana tidak? Bentuk bidang jalan yang lurus dan panjang kerap membuat para pengguna kendaraan mengantuk, ditambah situasi jalan yang padat dan tak pernah luput dari kemacetan kota. Jumlah kecelakaan-pun bisa dibilang tidak sedikit. Tapi dibalik itu semua, ternyata Slipi menyimpan sejumlah kisah dan sejarah bangsa Indonesia.

Beberapa saat kedepan daerah ini akan menjadi bagian dari sejarah bangkitnya dunia ikan hias, khususnya Ikan Cupang (Betta splendens, Regan 1910). Berikut ini adalah beberapa data dan fakta sejarah yang berhasil dihimpun oleh pewarta indipenden dan sukarela tentang Slipi.

Slipi Djaman Doeloe Kala (Era Kolonial Inggris dan Belanda)

Semenjak pendudukan kolonial Inggris, Slipi sudah terkenal sebagai salah satu pusat niaga di Batavia. Mulai dari saudagar Arab dan Tionghoa, sampai pelaut nusantara dari Batak dan Bugis selalu menyempatkan untuk singgah dan berniaga ke tempat ini, menjajakan komoditas khas dari wilayahnya masing-masing. Tempat ini dianggap paling netral ketimbang pelabuhan sunda kelapa, salah satunya karena harga yang ditawarkan kadang jauh lebih rendah dari harga di pelabuhan. Petani teh dan kopi dari Ancol, Bogor sampai cianjur juga tak pernah melewatkan melakukan penjualan hasil buminya di wilayah ini. Kain Arab, keramik Tionghoa akan ditukar dengan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Gubernur jenderal Deandles (sampai 1811) menetapkan Slipi sebagai kawasan Niaga, sebelum kemudian digantikan oleh Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (Raffles – 1811 sampai 1816), Batavia di bawah kendali Inggris. Pelabuhan Sunda Kelapa dianggap tidak aman, karena sering terjadi pemberontakan warga Indonesia. Dan bermulalah kehidupan multi-etnis di wilayah ini. Raffles kemudian meletakkan dasar kebijakan ekonomi untuk pulau jawa, terutama Slipi. Sebagian tanah di batavia dikenakan landeelicjk stelsel atau sewa tanah. Sedangkan di priangan masih ada yang menganut preanger stelsel (atau tanam kopi paksa). Makanya banyak petani priangan yang menjual kopinya di Batavia.

Disinilah kemudian saudagar dan pelancong luar mengadakan perjanjian sewa tanah dengan pemerintah kerajaan Inggris dan mulai menetap di Batavia (Slipi). Sistem sewa tanah dilakukan dengan memberlakukan fungsi pengawasan Residen (pendamping bupati), pengawas penghasilan yang diperoleh dari tanah (opzieners der landeelicjke inkomsten) dan pengawas pamong praja (controleur van het binnenlands bestuur).

1816, kekuasaan politik di Batavia kembali ke pemerintah kolonial Belanda melalui VOC. Sistem ekonomi berubah total. Pada tahun 1830, Gubernur Jenderal van den Bosch menghapuskan sistem sewa tanah yang terus berlaku selama kepemimpinan 5 gubernur jenderal sebelumnya. Tanah boleh dimiliki oleh warga keturunan yang ada di Jawa, hanya pemilik tanah akan dikenakan pajeg dan cuke. Di beberapa daerah pajeg dan cuke dikenakan secara tidak merata. Ini kemudian yang menyebabkan terjadinya pergolakan. Sastrakusuma, mandor priangan termasuk korbannya.

22 Juli 1913, pergolakan dan kerusuhan terjadi di Slipi. Cuke yang dikenakan dari warga keturunan (multi-etnis) naik sampai 200%. Pamong praja kadang berlaku seperti tuan tanah memberikan pungutan pajeg sekena hati tau khan kenapa sampe sekarang kelakuan pamong praja gak pernah bener, itu karena warisan kumpeni. Salah satu bentuk kesewenangan ini secara legal disetujui oleh pemerintah belanda. Ambil contoh kasus penyelesaian sengketa di Tanah Abang dan slipi dengan “Patahkan saja Leher Tuan tanah satu” (termuat dalam Surat Residen Batavia kepada Gubernur Jenderal , tanggal 10 September 1913 No. 367 dalam Mailrraporten 1913.13 ARA).

Slipi, Peradaban Multietnis, Multibudaya, dan Multikuliner

Slipi, memang salah satu bagian di kota batavia yang dihuni oleh multietnis, namun karena ke-strategis-an tempatnya niaga berkembang pesat di wilayah ini. Ini juga yang kemudian menyebabkan perkembangan kehidupan multietnis juga. Adanya peleburan budaya, dan tentu saja terciptanya variasi kuliner yang luar biasa. Sebut saja beberapa seni seperti, Gambang, Cokek, Tanjidor dan pertunjukkan seni sering diadakan di pusat pasarnya, untuk menghibur para noni-noni, saudagar Arab dan Tionghoa. Perkawinan antar etnis juga kerap terjadi, walau diwarnai dengan pro dan kontra. Ini juga yang mengakibatkan leburnya beberapa menu masakan baru seperti; Pucung Ikan Gabus, Sambel Godog, Ketan Urab, Pindang Srangi, Sate Pentul, Rujak Juhi, dan Sate Asem Betawi. Cara berpakaian dan lain-lain.

Gelar seni pencak kerap juga dilakukan. Satu yang menarik perhatian adalah lahirnya Gerak Saka. Diambil dari bahasa sunda (Jawara Sunda yang disewa residen buat narik pajeg) singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya. Semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani. Raden H Muhammad Sjafe'i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Batavia dan mengubah nama Gerak Gulung Bumi menjadi Gerak Saka. Bang Pe'i, demikian Muhammad Sjafe'i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Bang Pe’i yang keturunan Pandeglang ini mengembangkannya di Daerah Petojo. Ilmu ini kemudian diwariskan ke H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

Kenapa harus berkelahi? Pusat perkembangan niaga juga memicu munculnya aktifitas lain, sebut saja sabung ayam, minum-minum, dan terakhir Adu ikan cupang. Pelancong-pelancong kadang membawa ikan yang terkenal agresif ini dari pulau Borneo dan dan Bumi Andalas dan di tarungkan di Slipi.

Tak jarang bila jawara yang turun mengadu ikan harus berakhir dengan perkelahian, karena tak terima kekalahan ayam atau ikannya. Daripada harus mondar mandir Andalas dan Borneo, beberapa keturunan Tionghoa kemudian mengembangkanjenis ikan ini di sekitaran Slipi. Kegiatan ini bertahan sampai sekarang dan menjadi budaya tak terpisahkan dengan Slipi. Untungnya budaya berkelahi tidak diwariskan juga.

Para Jawara yang pada perkembangan pemerintah kolonial waktu itu dinilai meresahkan mulai diberantas habis-habisan, karena dianggap sebagai biang onar dan di cap sebagai penjahat. Ini yang menyebabkan beberapa pendekar memilih menyingkir dari pusat kota, dan kembali ke pinggir-pinggir kota sambil terus mewariskan ilmu tersebut ke anak cucunya secara rahasia.

Jadi, Slipi memang tak bisa dipisahkan dari Sejarah Ikan Cupang itu sendiri

Slipi Era Kemerdekaan: 1945 - Now dan Pesatnya Pembangunan.

Seperti diungkapkan sebelumnya, tumbuh berkembangnya komunitas multietnis di Ibukota juga terjadi di Daerah Slipi. Untuk menjaga kerukunan Umat beragama, banyak juga berdiri beberapa bangunan ibadah. diantaranya yang berhasil dihimpun dari info yang berserakan.

a. HKBP Slipi. (1963 - now)

Gereja HKBP Slipi yang terletak di Jln. Anggrek Cendrawasih Blok K No. 11 Jakarta Barat, berdiri pada tanggal 06 Oktober 1963. Pendirian gereja ini diprakarsai oleh beberapa keluarga Kristen Batak yang bertempat tinggal di sekitar Slipi, Palmerah dan Petamburan wilayah Jakarta Barat.

Langkah pertama yang dilakukan mereka adalah membentuk kebaktian (parmingguan) dari rumah ke rumah (pada bulan Agustus 1963), yang dilayani oleh Parhalado HKBP Kernolong Jakarta Distrik VIII Jawa - Kalimantan. Kebaktian dari rumah ke rumah ini kemudian pindah ke Gedung Sekolah SMP Negeri 16 Palmerah, Jakarta Barat selama setahun.

Sejalan dengan perkembangan jumlah jemaat dan telah tersedianya lahan untuk pembangunan gereja, maka dipikirkan bagaimana membangun sebuah gereja yang nyaman untuk tempat beribadah. Atas dasar pemikiran tersebut, maka dibentuklah Panitia Pembangunan masa bakti 1963 - 1964, yang diketahui oleh BPT Hutauruk, Wakil Ketua W. Marpaung, Bendahara P. Hutasoit, dibantu oleh beberapa anggota jemaat. Kendatipun Panitia telah bekerja keras, namun mereka belum berhasil mendirikan bangunan gereja yang layak.

Langkah kedua yang dilakukan adalah mengusulkan status parmingguon menjadi Huria Nagok. Pada tanggal 18 Nopember 1964 Ephorus HKBP pada saat itu, Pdt. Ds. T. Sihombing, secara resmi mengukuhkan HKBP Slipi menjadi anggota Gereja Ressort HKBP Kernolong. Beberapa waktu kemudian, dengan terbentuknya Ressort HKBP Petojo pada tanggal 30 April 1967, maka HKBP Slipi dialihkan menjadi pagaran Ressort HKBP Petojo.

Dengan pergumulan dan usaha yang dilakukan oleh Pemrakarsa Gereja HKBP Slipi ini, maka pada tanggal 07 Juni 1965 HKBP Slipi memperoleh sebidang tanah dari Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum seluas 720 m persegi di Blok K No. 11 Slipi, Jakarta Barat.

b. Dokumen Slipi (1968)

Dalam dokumen yang disebut "Dokumen Slipi" yang berisi hasil pemeriksaan Bung Karno sebagai saksi ahli dalam perkara Subandrio dan merupakan kesaksian terakhir BK (1968), "...1 Oktober 1965 bagi saya adalah malapetaka, karena gerakan yang melawan G30S pada 1 Oktober 1965 itu telah melakukan pembangkangan terhadap diri saya, sejak saat itu gerakan yang melawan G30S tidak tunduk pada perintah saya, maka saya berpendapat G30S lawannya Gestok...". Jika dokumen ini memang benar adanya, hal itu sesuai dengan seluruh perkembangan kejadian serta analisis BK tentang G30S tersebut di atas. Brigjen Suparjo segera menghentikan gerakan G30S sementara Mayjen Suharto meneruskan Gestok-nya. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa Presiden Sukarno tidak mengambil tindakan apa pun terhadap jenderal yang satu ini, justru melegitimasi dengan mengukuhkan kedudukannya. Sebenarnyalah peristiwa G30S di Jakarta hanya berlangsung selama satu hari, sementara di Jawa Tengah yang tertinggal itu berlangsung beberapa hari (sesuatu yang aneh dan perlu dikaji lebih lanjut). Gerakan selanjutnya, yang disebut BK Gestok, dilakukan oleh Mayjen Suharto dengan menentang dan menantang perintah Presiden dengan menindas PKI dan gerakan kiri lainnya, membantai rakyat dan pendukung BK, ujungnya menjatuhkan Presiden Sukarno. Inilah tragedi sebenarnya dengan pembukaan pembunuhan enam orang jenderal dan seorang perwira pertama oleh pihak militer sendiri. (Dari berbagai sumber).

c. Bicara Kanker, Bicara Slipi
Kalo ada kasus penyakit Kanker yang terbayang pertama adalah Slipi dan Rumah Sakit Kanker Dharmais. coba simak beberpa kutipan berikut:

Adalah kelompok Tim Kanker Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Para dokter yang tergabung dalam kelompok tersebut, termasuk Prof. DR. Dr. A. Harryanto Reksodiputro, SpPD-KHOM, atau yang lebih akrab disapa Prof. Arry, memberikan pelayanan kepada pasien kanker yang berasal dari seluruh Indonesia di rumah sakit tersebut. Namun demikian, pelayanan kepada pasien kanker saat itu terhambat oleh belum adanya fasilitas yang memadai dan masih ditangani oleh bagian yang terpisah-pisah, misalnya kanker serviks oleh bagian obsgin, kanker nasofaring oleh bagian THT, kanker prostat oleh bagian urologi, dan sebagainya. Sedangkan dalam pengobatan kanker diperlukan penanganan yang terintegrasi. Oleh sebab itu, semua dokter yang tergabung dalam kelompok tersebut bercita-cita memiliki rumah sakit yang khusus menangani kanker.

Pada saat itu, kebetulan salah satu keluarga jauh Presiden Soeharto menderita kanker dan harus berobat ke luar negeri. Kepada presiden, Prof. Arry menceritakan proses pengobatan kanker di luar negeri dan kesulitan RSCM menangani pasien kanker dengan baik. “Meski ada tenaga ahli, tetapi karena sulitnya melakukan koordinasi sehingga sulit menghasilkan penanganan yang maksimal.” Mendengar masukan tersebut, presiden meminta beliau untuk memikirkan model rumah sakit kanker. Prof. Arry yang kala itu masih bergelar doktor menghubungi para pakar di FKUI dan meminta nasihat Departemen Kesehatan serta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya rumah sakit kanker yang diberi nama Rumah Sakit Kanker “Dharmais” berdiri pada 30 Oktober 1993.

Kemudian terbentuklah tim pembuatan usulan pendirian rumah sakit kanker pada bulan Oktober 1988. Usulan tersebut dapat diselesaikan pada bulan Desember 1988 dan diserahkan kepada ketua Yayasan Dharmais pada 8 Januari 1999

Tadinya Rumah sakit ini ditujukan khusus untuk anggota Partai Politik besar pada waktu itu (baca: Golkar) dan keluarga Cendana saja, atau harus ada rujukan dari Dokter di RSCM. Namun sejak tahun 1999 pula, kemudian Rumah Sakit Dharmais dibuka layanan untuk umum.

d. Slipi dan Reformasi (1998)

Beberapa media berhasil meliput tentang dampak kejadian seputar Reformasi di Indonesia. beberapa konflik dan kerusuhan kerap terjadi. Diantaranya di gadang atas dasar perbedaan ras, suku dan agama. Ini adalah satu era kekelaman bagi kehidupan bangsa Indonesia sebagai akibat dari satu kata yang sampai sekarang tabu untuk saya mendengarnya "Provokasi".

Tragedi Semanggi, Tragedi Trisakti. secara langsung ataupun tidak berimbas pada kehidupan multietnis di Slipi. Kehidupan damai sudah sangat ditemui di Jakarta. Mulai dari pembakaran kendaraan mewah, kendaraan umum, penjarahan toko dengan dalih bukan pribumi. Semua kejadian sangat merusak sendi kehidupan, dan seketika menghentikan denyut nadi ibukota. Imbasnya bisa terasa, Dolar yang dulu bisa ditukar dengan seribu rupiah, sempat terombang - ambing diangka 10.000 sampai 14.100 (data BEJ 1997 - 1998). Bukan hanya perekonomian yang ambruk, tapi kehidupan ikut didalamnya

Tragedi tanggal 13-15 Mei 1998, yang menurut catatan tim Relawan untuk Kemanusiaan itu menewaskan 1.217 orang, 91 terluka, dan
31 orang hilang, telah menghancurkan kepercayaan kepada negara,
membiakkan prasangka, melantakkan perasaan sebagai manusia, dan
menggelembungkan negativitas yang tidak sanggup didefinisikan oleh
diri sendiri, tetapi oleh sesuatu di luar diri, yakni dampak yang
ditimbulkannya. Terutama yang menyebabkan kerusakan total dari hidup kebersamaan: peristiwa pemerk@#%$n dan peng@#%^$n sek$%#l terhadap para perempuan etnis T di Jakarta, yang terlacak hampir sebulan setelah peristiwa itu.

Berikut kutipan beberapa testimoni para pelaku langsung yang ditemui ketika itu:

Seperti dikemukakan seorang ibu di kawasan Slipi, yang dijumpai
beberapa waktu silam. "Setiap memasuki bulan Mei, hati saya tidak
keruan. Tapi ya mau apa lagi, anak saya tidak akan hidup lagi, dan
hidup harus dilanjutkan. Saya tidak bisa ikut macam-macam karena kalau enggak jualan sehari saja, semuanya pasti terganggu. Biaya hidup mahal, sewa rumah naik terus, biaya sekolah anak-anak juga. Untuk makan kita numpang dari jualan ini. Orang seperti kita enggak boleh sakit, enggak ada ongkosnya."

Perempuan itu berdagang ketupat sayur. Suaminya buruh serabutan.
Mereka mengontrak sepetak rumah di kawasan Slipi, di lingkungan yang
sangat kumuh. Keluarga itu menemukan anak perempuannya yang berusia 10 tahun tewas sambil memeluk boneka di Pusat Perbelanjaan Slipi Jaya pada petang tanggal 14 Mei tahun 1998.

Biarlah semua menjadi nota hitam dalam catatan sejarah kita.
Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it