by: Harry Setiawan*
perspektif seorang pencinta keindahan cupang hias Indonesia
Belajar mengenai keindahan cupang hias, sulit rasanya di pisahkan dengan apa yang disebut dgn kontes cupang hias, belajar mengikuti kontes tdk hanya belajar memilih, merawat ikan dan lain sebagainya tp juga memahami apa yang menjadi kriteria penilaian ikan ..
Di tahun-tahun pertama penulis mengikuti kontes cupang hias di Indonesia terdapat banyak hal yang terkadang membuat bingung terutama apa yang disebut sebagai aturan atau standar penilaian cupang hias sendiri, kontes-kontes yang berjalan waktu itu banyak yang memiliki aturan tersendiri yang terkadang membuat bingung sampai-sampai terkadangharus menanyakan siapakah jurinya? aturan apa yang digunakan? dan lain sebagainya
Secara garis besar kontes-kontes yang berjalan waktu itu banyak menggunakan aturan IBC yang digunakan oleh rekan-rekan dari perkumpulan yang menjadikan IBC sebagai afiliasinya namun banyak pula yang mengikuti "aturan nasional", mengapa saya kasih tanda quote? Karena selain subyek kontesnya sendiri berbunyi kontes nasional tapi juga juri-jurinya merupakan mereka yang biasa menjadi juri di kontes nasional yg memiliki aturan penilaian tersendiri yang walaupun secara garis besarnya sama dengan yang digunakan oleh yang berafiliasi dengan IBC tersebut.
Ternyata hal-hal seperti itu seringkali membuat bingung para pemain kontes terutama pemain pemula, seperti saya pada waktu itu dan seiring berjalannya waktu akhirnya sekelompok pemain yang mewakili beberapa daerah waktu itu mencoba mencari tau apa yang menjadi penyebab kebingungan ini.
Hasil yang di dapat waktu itu adalah adanya perbedaan sudut pandang mengenai cara menilai ikan antara yang menggunakan aturan penilaian yang satu dengan yang lainnya, kemudian didapat pula adanya keinginan dari pemain yang menginginkan ikan yang dikonteskan di satu kontes berbeda dengan yang lainnya dan penemuan terbesar waktu itu adalah apa yang mungkin menjadi kelemahan bangsa ini yakni, dokumentasi pada sistem penilaian "aturan nasional" ..
Banyak sekali aturan dan tata cara penilaian ikan masih berada dikepala para juri maupun para pemain, sehingga diperlukan langkah untuk menuangkan semua itu itu menjadi suatu aturan yang tertulis, kemudian sekelompok pemain tersebut melakukan langkah-langkah mengumpulkan semua masukan baik dari peternak, juri dan pemain yang biasa menggunakan "aturan nasional" agar nantinya menjadi suatu aturan yang tertulis...
Adapun maksud dari langkah tersebut adalah sebenarnya sebagai pijakan awal dalam rencana besar dalam penyusunan suatu standar nasional kontes cupang hias di Indonesia yang nantinya dapat diterima dan dapat digunakan oleh semua kelompok atau organisasi yang akan menyelenggarakan suatu kontes
Namun untuk berdiskusi dalam rencana pembuatan standar nasional tersebut dengan rekan-rekan yang sudah menggunakan aturan tertulis diperlukan suatu aturan yang tertulis juga hal tersebut dimaksudkan agar lebih mudah dalam diskusi penyusunan kerangka standarisasinya, karena semua yang menjadi bahan diskusinya akan menjadi secara jelas tertulis.
Kemudian sebagai wadah yang nantinya akan mempermudah dalam komunikasi, sekelompok pemain tadi mengambil inisiatif untuk mengumpulkan kelompok-kelompok maupun individu-individu menjadi suatu perkumpulan atau wadah resmi yang nantinya justru akan mempermudah bila ingin menjalin komunikasi atau diskusi mengenai rencana besar tadi dengan klub-klub cupang lain, dasar pemikiran kami waktu itu adalah daripada berbicara dengan banyak pihak yang memiliki karakter dan sudut pandang yang berbeda adalah lebih baik berbicara kepada suatu kelompok yang meiliki suatu aturan dan struktur organisasi yang lebih jelas karena akan lebih jelas aturan dan pihak yang menjadi teman diskusinya ...
Saat ini kondisi yang ada adalah adanya pendapat bagaimana memajukan percupangan nasional, sebagian pihak menginginkan bahwa kita harus memiliki standar sendiri, standar ala Indonesia mengingat kita juga memiliki andil besar dalam perkembangan cupang dunia maka sudah seharusnya aturan atau standar kita menjadi suatu acuan bagi negara-negara lain atau minimal kita dapat menjadi besar dengan produk kebanggan kita namun banyak pula yang menginginkan tetap menggunakan standar luar supaya kita dapat bersaing di dunia internasional
kedua pendapat tersebut sama benarnya dan sama-sama memiliki keinginan memajukan cupang Indonesia, namun tidak ada salahnya kita mencoba menggali potensi bangsa ini serta menggunakan apa yang menjadi keinginan para pendirinegara ini dalam menyelesaikan suatu perbedaan untuk suatu tujuan yang lebih baik, yakni musyawarah untuk mencapai mufakat ...
Padahal kalo kita lihat secara seksama sebenarnya kalau dikatakan perbedaan itu menjurus kepada perpecahan sebenarnya ibarat jauh panggang daripada api ..Saat kontes BMII ulang tahun yang pertama, banyak sekali peserta yang turun berasal dari klub-klub lain, seperti INBS, BCI ataupun Kobapi, kemudian saat INBS mengadakan kontes internasional di permata hijau taun 2009 dan di raiser cibinong tahun 2010, banyak pula rekan-rekan dari klub lain yang hadir bahkan saya sendiri kebagian menerima piala best of show waktu itu (narsis mode : on), sama halnya ketika rekan-rekan dari BCI atau Kobapi atau klub-klub mengadakan kontes banyak rekan-rekan dari klub lain yang ikut berpartisipasi, dan suasana di setiap kontes juga penuh kekeluargaan dan persahabatan bahkan jika anda mengakses situs ini (http://www.indobettas.com), yang perlu anda ketahui bahwa pemilik situs tersebut adalah ketua BMII dan ketua INBS, ditambah sdr Johannes dari Bandung dan di dalamnya banyak sekali anggota atau member situs yang juga anggota atau simpatisan dari klub-klub cupang yang ada,jadi sangatlah aneh menurut saya jika dikatakan terjadi suatu masalah antar kelompok cupang di Indonesia karena pada kenyataannya kami semua dapat saling menghargai dan bekerja sama.
Contoh yang hangat adalah rencana kontes TMII yang akan diselenggarakan oleh rekan-rekan INBS, meskipun awalnya sempat terjadi kesalahpahaman yang menurut saya terjadi karena adanya koordinasi dan miskomunikasi yang kurang baik, namun hal tersebut sudah dapat diselesaikan, saya secara pribadi juga hadir dalam rapat dengan rekan-rekan INBS, sehingga apa yang di khawatirkan mengenai terjadinya boikot, bentrok dan lain sebagainya hanya menjadi isapan jempol dan gosip belaka, bahkan untuk mendukung kontes tersebut kami juga telah melakukan pergeseran salah satu jadwal kontes nasional, sehingga jikapun terjadi suatu bentrok jadwal hal tersebut kemungkinan berbarengan dengan kontes-kontes regional yang selain sudah disusun jauh-jauh hari juga merupakan suatu kontes pembinaan yang bertujuan untuk mencetak pemain-pemain atau hobiis-hobiis baru yang berada di daerah setempat.
Jadi, jika mengatakan proses ini sebagai proses pemecah belah cupang hias di Indonesia hal itu menurut saya kurang tepat karena semua ini merupakan bagian proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuan besar sebagai akhirnya yakni suatu standar penilaian nasional yang mewakili semua pihak, dapat diterima dan digunakan oleh semua pihak serta menjadi kebanggaan nasional
Jikapun nantinya tidak dapat ditemui suatu kesepakatan mengenai standar nasional ini karena masing-masing berangkat dari sudut pandang yang berbeda, menurut saya hal tersebut tidak perlu ditakuti atau dikhawatirkan, karena ikan cupang adalah mahakarya agung dari Sang Maha Pencipta, seperti halnya lukisan karya para maestro, banyak aliran-aliran seperti naturalis, impresionis, abstrak, dan lain lain yang melatar belakangi lukisan-lukisan tersebut, namun dapat dilihat satu halmeskipun sudut pandang aliran-aliran tersebut berbeda, namun kita tetap dapat mengatakan lukisan-lukisan itu indah, hal tersebut yang harusnya menjadi dasar kita dalam menilai ikan, selalu melihat dari sudut pandang yang mana, karena jika sudah demikian kita akan memiliki suatu ketetapan hati ingin mengikuti kontes yang model gimana dengan aturan yang seperti apa tanpa memperdulikan faktor-faktor lain di sekeliling kita ...
Dan sudah sangat sewajarnya atas dasar itu kita kembali ke masing aliran yang kita pilih, tanpa perlu mengintervensi atau menghakimi aliran lain, toh Leonardo da Vinci, Vincent Van Gogh, Rembrant, Michaelangelo, Raden Saleh, Basuki Abdullah dan lain lain tidak pernah saling bermasalah dalam menjalankan fungsinya sebagai pelukis-pelukis hebat ...
Untuk itu marilah kita secara bersama-sama menghilangkan sikap saling khawatir dan curiga, demi percupangan Indonesia yang lebih baik
Jayalah negeriku, Jayalah Cupang hias Indonesia
Terima kasih,
Harry D Setiawan
* = Penulis merupakan pencinta cupang hias Indonesia yang saat ini menjabat sebagai ketua BMII ( Betta Mania Independen Indonesia )
editor's note:
Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it
Showing posts with label Future. Show all posts
Showing posts with label Future. Show all posts
Tuesday, October 19, 2010
Monday, April 19, 2010
Peninggilan dan Masa Depan Cupang Hias Indonesia
Bogor, 19 April 2010
Pertama kali gue nginjekin kaki di salah satu sudut Tangerang ini, kesannya panas banget. beda ama rumah di Bogor. Emang sih gue datengnya jam 1 siang....karena takut nyasar, aye terus kontek2an ama bang Yoxx and Agie. salah dua temen yang ngenalin gue ada yang namanya kontes ikan cupang hias ... Beberapa kali Agie mengajak gue ikutan, cuma karena jauh (Purwokerto, Tulung Agung) yah menitipkan saja, itung-itung carpeng (cari pengalaman) modalnya ikan-ikan seadanya yang gue dapet di pasar pagi.
Juga ketika kontes regional Peninggilan diadakan (kalo gak salah bulan Januari). Gue nekat pengen tau ah suasana kontes. Bergegaslah gue cabut bareng bini, bermodalkan alamat yang gue gak pernah tau sebelumnya. Tapi ternyata, Peninggilan menyimpan banyak banget potensi.
Terlepas dari suasana kontes pada waktu itu, gile masih ada kebonan luas. Jejeran akuarium penuh burayak, n induk jantan yang lagi jagain anaknye. bener2 kayak orang norak, gue gak peduli hiruk pikuk panitia mengumumkan hasil kontes, yang gue tau ada ikan gue yang waktu itu didaftarkan atas nama Agie masuk nominasi... asli seneng banget.
Dan pertama kali juga gue dikenalin agie sama beberapa Petani, dan Peserta kontes pada waktu itu. cuman Bag Usin yang waktu itu nyangkut di kepala (maklum otak gue dikit). Kesan pertama dari komunitas cupang ini, hangat, akrab dan friendly. Gue demen ama yang kayak gini. Mbak eto, satu2nya ornag paling cantik dalam komunitas tersebut, gak sungkan2 nawarin rambutan hasil jarahan salah satu anggota komunitas. Sayangnya gue gak demen rambutan.
Kemarin, Kunjungan gue yang kedua. Gue belain konvoi bareng Bang Zaldi... (beberapa kali bang Z kudu berenti nungguin gue yang lelet bawa motornye... gue kalo bawa motor kayak bawa gelas... pelan boss, secara orang jawe gitu loh... alon-alon asal klakon. satu yang pasti kenapa gue pengen balik lagi ke tempat ini. Kangen. apalagi ama tongseng di sebelah Pom Bensin-nya
Terus udah beberapa kali Lana, Om Boy, Temen2 BBP ngajak maen. Walaupun Bokek... cuek ajah, turun dan meramaikan, itu pasti (gak ngarep juara dah). dan Kontes kemarin jadi momen yang tepat.
Ada sedikit yang berubah... disono ada bekas bak mandi yang isinya burayak naga warna warni.
Pas gue lagi asik ngeliat burayak2 itu, Ada 3 anak kecil usia 6 - 12 tahun yang menyapa... Bang, kalo mau bahan dragon banyak tuh di gelas aqua, baru naek lubuk.
Kaget dong gue, wew, anak sekecil itu udah kenal lubukan? pertama gue acuhin, tapi beberapa penjelasan mereka tentang ikan cupang jelas jauh diatas pengetahuan gue tentang Cupang hias ini.
Mereka gak segan nerangin masalah warna pada ikan cupang, kelebihan, form, pakan dan lain-lain. ala mereka. Salut gue sekaligus malu (ini jadi motivasi gue buat terus menekuni ilmu satu ini). gak cuma ke gue, tapi juga ke orang-orang yang datang melongok botol2 aqua itu.
banyak cara yang mereka tawarkan untuk menarik perhatian gue.
"[i]Bang, kalo gak buru-buru bisa keabisan loh, soale ikan disini cakep2[/i]"... diangkat salah satu botol dan ditunjukkan ke gue. "[i]Ini namanya black dragon moster, liat bukaan ekornya bang, umurnye baru 2 bulan, belum bisa turun di baby. tunggu gedean dikit lagi[/i]"
Emang, begitu gue perhatiin tuh botol, mereka gak bo'ong. Untuk upaya mereka gue acungin jempol. gue pilih macem2 warna waktu itu, bukan cuma untuk menyenangkan hati mereka. tapi karena gue demen juga ama ikan itu. sempet pilih2 ikan, n minta di pisahin tapi begitu ditinggal beli minuman... eh udah ada di tas orang lain
Antusiasme ini juga muncul ketika mereka berebut untuk mengemas ikan, slep, slep, slep... kerjanya sigap... walaupun masih ada kekurangan (ikatan plastik kurang mantap... tapi gue juga kayak gitu). sesekali kakak2nya turun untuk ngejelasin n ngajarin ke mereka cara mengemas yang benar (gue juga nyimak).
Satu yang pasti kesan gue begitu melihat ini. Optimisme bahwa Dunia ikan Cupang Hias Indonesia akan terus ada. Mudah2an antusiasme para cupanger kecil ini terus terjaga, tapi gue berharap mereka gak ninggalin bangku sekolahnya untuk hobi menyenangkan ini.
Salut buat Peninggilan dan generasi penerusnya, dan buat cupang Indonesia. dan buat gue... koleksi akuarium soliter gue nambah lagi warna-warninya, gak tau kalo suatu saat ikan di akuarium soliter gue bakal muncul di kontes-kontes ke depan.
Sekali lagi... Bravo
Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it
Pertama kali gue nginjekin kaki di salah satu sudut Tangerang ini, kesannya panas banget. beda ama rumah di Bogor. Emang sih gue datengnya jam 1 siang....karena takut nyasar, aye terus kontek2an ama bang Yoxx and Agie. salah dua temen yang ngenalin gue ada yang namanya kontes ikan cupang hias ... Beberapa kali Agie mengajak gue ikutan, cuma karena jauh (Purwokerto, Tulung Agung) yah menitipkan saja, itung-itung carpeng (cari pengalaman) modalnya ikan-ikan seadanya yang gue dapet di pasar pagi.
Juga ketika kontes regional Peninggilan diadakan (kalo gak salah bulan Januari). Gue nekat pengen tau ah suasana kontes. Bergegaslah gue cabut bareng bini, bermodalkan alamat yang gue gak pernah tau sebelumnya. Tapi ternyata, Peninggilan menyimpan banyak banget potensi.
Terlepas dari suasana kontes pada waktu itu, gile masih ada kebonan luas. Jejeran akuarium penuh burayak, n induk jantan yang lagi jagain anaknye. bener2 kayak orang norak, gue gak peduli hiruk pikuk panitia mengumumkan hasil kontes, yang gue tau ada ikan gue yang waktu itu didaftarkan atas nama Agie masuk nominasi... asli seneng banget.
Dan pertama kali juga gue dikenalin agie sama beberapa Petani, dan Peserta kontes pada waktu itu. cuman Bag Usin yang waktu itu nyangkut di kepala (maklum otak gue dikit). Kesan pertama dari komunitas cupang ini, hangat, akrab dan friendly. Gue demen ama yang kayak gini. Mbak eto, satu2nya ornag paling cantik dalam komunitas tersebut, gak sungkan2 nawarin rambutan hasil jarahan salah satu anggota komunitas. Sayangnya gue gak demen rambutan.
Kemarin, Kunjungan gue yang kedua. Gue belain konvoi bareng Bang Zaldi... (beberapa kali bang Z kudu berenti nungguin gue yang lelet bawa motornye... gue kalo bawa motor kayak bawa gelas... pelan boss, secara orang jawe gitu loh... alon-alon asal klakon. satu yang pasti kenapa gue pengen balik lagi ke tempat ini. Kangen. apalagi ama tongseng di sebelah Pom Bensin-nya
Terus udah beberapa kali Lana, Om Boy, Temen2 BBP ngajak maen. Walaupun Bokek... cuek ajah, turun dan meramaikan, itu pasti (gak ngarep juara dah). dan Kontes kemarin jadi momen yang tepat.
Ada sedikit yang berubah... disono ada bekas bak mandi yang isinya burayak naga warna warni.
Pas gue lagi asik ngeliat burayak2 itu, Ada 3 anak kecil usia 6 - 12 tahun yang menyapa... Bang, kalo mau bahan dragon banyak tuh di gelas aqua, baru naek lubuk.
Kaget dong gue, wew, anak sekecil itu udah kenal lubukan? pertama gue acuhin, tapi beberapa penjelasan mereka tentang ikan cupang jelas jauh diatas pengetahuan gue tentang Cupang hias ini.
Mereka gak segan nerangin masalah warna pada ikan cupang, kelebihan, form, pakan dan lain-lain. ala mereka. Salut gue sekaligus malu (ini jadi motivasi gue buat terus menekuni ilmu satu ini). gak cuma ke gue, tapi juga ke orang-orang yang datang melongok botol2 aqua itu.
banyak cara yang mereka tawarkan untuk menarik perhatian gue.
"[i]Bang, kalo gak buru-buru bisa keabisan loh, soale ikan disini cakep2[/i]"... diangkat salah satu botol dan ditunjukkan ke gue. "[i]Ini namanya black dragon moster, liat bukaan ekornya bang, umurnye baru 2 bulan, belum bisa turun di baby. tunggu gedean dikit lagi[/i]"
Emang, begitu gue perhatiin tuh botol, mereka gak bo'ong. Untuk upaya mereka gue acungin jempol. gue pilih macem2 warna waktu itu, bukan cuma untuk menyenangkan hati mereka. tapi karena gue demen juga ama ikan itu. sempet pilih2 ikan, n minta di pisahin tapi begitu ditinggal beli minuman... eh udah ada di tas orang lain
Antusiasme ini juga muncul ketika mereka berebut untuk mengemas ikan, slep, slep, slep... kerjanya sigap... walaupun masih ada kekurangan (ikatan plastik kurang mantap... tapi gue juga kayak gitu). sesekali kakak2nya turun untuk ngejelasin n ngajarin ke mereka cara mengemas yang benar (gue juga nyimak).
Satu yang pasti kesan gue begitu melihat ini. Optimisme bahwa Dunia ikan Cupang Hias Indonesia akan terus ada. Mudah2an antusiasme para cupanger kecil ini terus terjaga, tapi gue berharap mereka gak ninggalin bangku sekolahnya untuk hobi menyenangkan ini.
Salut buat Peninggilan dan generasi penerusnya, dan buat cupang Indonesia. dan buat gue... koleksi akuarium soliter gue nambah lagi warna-warninya, gak tau kalo suatu saat ikan di akuarium soliter gue bakal muncul di kontes-kontes ke depan.
Sekali lagi... Bravo
Knowledge is not mine and never be mine, it belongs to everyone who had will to have and spread it
Labels:
Antusiasme,
Cupang,
Future,
Hobby and Interest,
Knowledge
Subscribe to:
Posts (Atom)
